Rabu, 16 Februari 2011

PSK juga punya cinta !

Walau tak ada satu orang pun di dunia ini yang menganggap diriku benar,ternyata masih ada dirimu mas yang menghidupkan aku walau aku terjatuh di dalam lubang hitam ini
Sudah sekitar 5tahun aku bergelut di dunia yang menurut masyarakat adalah pekerjaan tidak halal ini. Melayani nafsu para lelaki hidung belang. Iya, aku seorang pekerja seks komersial,aku hanyalah sampah masyarakat yang hanya bisa menjual tubuh ku. Bagiku dengan cara inilah aku bisa mendapatkan uang secara cepat.
            Tak mudah melayani mereka, mereka terkadang melukai semua organku yang bisa membuat nafsunya meningkat tinggi dan akupun tidak bisa melawan mereka. Aku hanya bisa menahan semua rasa sakit itu demi mendapatkan uang untuk hidup di tengah kerasnya kehidupan ibu kota.
            Kehidupan hitamku ini ku masuki ketika aku berumur 20tahun,ketika ibu tidak bisa memberiku uang saku lagi untuk melanjutkan kuliahku sedangkan bapak entahlah dia ada dimana sekarang sejak aku duduk dibangku SMP dia telah meninggalkan ibu dengan hutangnya yang sangat banyak. Ibu berusaha menghidupi aku dan ketiga adikku yang masih kecil ini mereka pun ikut putus sekolah.
            Aku mencari cara agar ibu tidak perlu khawatir dengan biaya hidup ini. Dan aku di beri tawaran oleh sahabatku sendiri ia menjualku ke germo langganannya. Tak berfikir lama bagiku untuk mengiyakan ajakan itu,lumayan dalam sehari omsetku bisa mencapai 1 samapi 1,5 juta itupun tergantung mereka memberiku berapa banyak.
            Ditahun tahun pertama aku merasa sangat kuat menahan semuanya,aku berbohong pada ibu. Aku mengaku bekerja di kantor ternama yang menggajiku hingga puluhan juta dalam sebulan,dan nyatanya ibu percaya. Aku sudah bisa menyekolahkan adik adikku memberi mereka tempat tinggal yang layak dan melunasi semua hutang bapak.
            Tetapi di tahun keempat aku merasakan lelah berujung pada ubun ubun ku. Aku selalu berusaha mencari pekerjaan yang layak tetapi mana ada yang menerima lulusan kuliah yang tidak genap 3semester ini,apalagi ini ibu kota. Ingin sekali aku memotong urat nadiku ini ketika aku memikirkan semua perlakuan haramku ini.
Sesekali aku berfikir untuk ingin menikah dengan laki laki yang pantas ,yang mencintaiku tetapi siapa yang mau memunggut barang bekas? Adakah masih di dunia ini seorang laki laki yang mau menerima wanita sampah seperti diriku? Aku rasa tidak,walaupun ada pasti dia sama seperti laki laki hidung belang itu, menikmati tubuhku lalu pergi mencari wanita lain lagi.
            Ternyata aku salah,aku bertemu sosok laki laki itu,dia gagah,tampan sangat ramah. Ia awalnya menyewaku juga tetapi entahlah dia sama sekali tidak menyentuh tubuhku tidak menyuruh ku untuk memenuhi nafsunya,sepertinya ada yang salah dengan kehidupan “cinta”nya.Setiap ia memesanku ia malah mengajakku kencan dan bukan bercinta,malaikat bagiku.
Lelaki itu bernama Janu, Janu purwaningrat. Ia ditinggal istrinya menikah lagi dengan lelaki yang lebih kaya,padahal mas Janu ini keturunan ningrat yang harta kekayaannya tidak habis tujuh turunan. Tidak habis pikir, ternyata masih ada perempuan bodoh seperti mantan istrinya itu.
Mas janu yang selisih umurnya sekitar 2tahun diatasku mencoba membawaku ke kehidupan normal yang aku alami sebelum memasuki lubang hitam ini. Mas janu mencintaiku walaupun aku tak sesuci perempuan lain. Menurutnya hati lah yang terpenting,dan hatiku bagi nya masih suci.
Tidak perlu waktu yang lama untuk membuat mas Janu jatuh cinta padaku. Semasa berpacaran ia memberiku begitu banyak hadiah senang rasanya ada lelaki yang begitu mencintaiku aku harap dia memiliki rasa ini tulus terhadapku. Bahkan aku sempat berkhayal bisa menikah dengan lelaki konglomerat ini.
Sampai akhirnya mas Janu mengajakku berlibur di Bali.
“Dek mas ingin berlibur ke Bali nih,sudah lama tidak melihat matahari terbenamnya pantai Kuta”
“ya sudah berlibur saja sana mas,aku ga punya uang cukup untuk ikut pergi kesana”
“Lah siapa yang suruh kamu bayar sendiri?pake uang mas untuk pergi ke sana,kamu temani aku saja kesana ,bagaimana dek?”rayu mas Janu
“hem terserah mas Janu sajalah aku nurut ae
Senyum mas Janu pun tidak bisa ia simpan dbalik bibir nya yang indah itu.Kencan sore itu berakhir dengan percakapan yang membuatku sangat senang. Tak berapa lama setelah aku dan mas Janu menghabiskan secangkir kopi di resto tersebut, ia mengajakku membeli tiket dengan jadwal keberangkatan pukul 07.00 pagi ke Bali.
“Tak usah membawa banyak baju ya sepertinya satu koper saja cukuplah dek,”kata mas Janu yang selalu memanggilku adek dan tak pernah mau menyebut namaku itu
“Iya mas makasih ya semuanya,besok kita ketemu di bandara saja tak usah jemput aku pagi pagi ya”
“Iya dek,kalo itu mau kamu mas nurut lah, ya sudah tidur sana jangan sampai telat besok ya.”
“iya mas,malem mas,” percakapan itu aku akhiri dan selanjutnya aku bergegas untuk mempersiapkan semua kebutuhan ku untuk berlibur.
Mas janu dan aku bertemu di bandara pukul 06.30 pagi dan berangkat pukul 07.00 pagi ke bali, hanya butuh 2jam perjalanan di tempuh dengan pesawat terbang ini dari jakarta menuju Bali. Baru kali ini aku ke Bali,wow! Bali memang indah! Semasanya di bali aku berasa honeymoon dan buka pergi jalan jalan,ma Janu sangat memanjakanku membeli ini itu,bahagianya aku.
Hari ini hari terakhir kita berlibur di Bali,sebenarnya aku tidak ingin kembali ke ibu kota Bali telah buat aku jatuh cinta dengan segala pesona alamnya.Mas Janu memutuskan utuk melihat matahari terbenam sebelum akhirnya ke Jakarta dengan keberangkatan pukul 23.00 .Detik detik menunggu sunset mas Janu mengajakku untuk duduk di pantai.Mas Janu tertidur di pangkuanku,indah rasanya.
“Dek,”
“Iya mas, ono opo toh?”
“Gini loh,aku sebenarnya sudah lama pengen ngasi ini ke kamu tapi aku ora berani ngomongnya,”
“lah kenapa gitu mas?bilang aja aku dengerin kok”
Mas Janu berusaha mengeluarkan sesuatu dari kantongnya,”Ini dek cincin nikah, mas Janu mau ngajak kamu nikah”
Aku terdiam melihat kilauan berlian yang mas Janu suguhkan kepadaku. Apa aku sedang bermimpi?Aku tertegun dan tak tahu harus menjawab apa
“Dek,salah ya mas ngomong gini?mau kan dek kamu nikah sama aku?”
Indah sunsetnya menjadi saksi bisuku,
“Iya mas aku mau,mau nikah sama kamu,” air mataku tak tahan dan menurun mambasahi pipiku.Walau tak ada satu orang pun di dunia ini yang menganggap diriku benar,ternyata masih ada dirimu mas yang menghidupkan aku walau aku terjatuh di dalam lubang hitam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar